• Home
  • Regional
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekbis
  • Politik
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Regional
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekbis
  • Politik
  • Teknologi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Harga Emas Terkoreksi Usai Aksi Ambil Untung dan Redanya Ketegangan Geopolitik

Harga Emas Terkoreksi Usai Aksi Ambil Untung dan Redanya Ketegangan Geopolitik

Harga Emas Terkoreksi Usai Aksi Ambil Untung dan Redanya Ketegangan Geopolitik

January 17, 2026
Share on FacebookShare on Twitter

Harga emas global melemah pada perdagangan Jumat, 16 Januari 2026—setelah reli panjang yang mendorong logam mulia mencetak rekor tertinggi. Aksi ambil untung investor serta meredanya ketegangan geopolitik mengurangi daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.

Harga emas spot turun 0,5% ke level US$4.592,29 per ons pada pukul 13.39 waktu setempat AS. Sebelumnya, harga sempat menyentuh level terendah harian di US$4.536,49 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari ditutup melemah 0,6% ke US$4.595,40 per ons.

You might also like

BTN dan RSUP Ngoerah Kolaborasi Kembangkan Layanan Wellness dan Wisata Medis di Bali

BTN dan RSUP Ngoerah Kolaborasi Kembangkan Layanan Wellness dan Wisata Medis di Bali

October 17, 2026
Dari Kampus ke Industri, BTN Ajak Anak Muda Bandung Ciptakan Inovasi Perumahan Melalui BTN Housingpreneur Batch 3

Dari Kampus ke Industri, BTN Ajak Anak Muda Bandung Ciptakan Inovasi Perumahan Melalui BTN Housingpreneur Batch 3

October 13, 2026

Meski terkoreksi, emas masih berada di jalur kenaikan mingguan sekitar 1,9%, menandai potensi penguatan untuk pekan kedua berturut-turut. Pada Rabu lalu, harga emas sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di US$4.642,72 per ons.

Analis Marex, Edward Meir, menilai pelemahan emas sejalan dengan koreksi umum di pasar komoditas setelah kenaikan agresif dalam beberapa pekan terakhir.

“Ini adalah pelemahan luas di komoditas akibat aksi ambil untung. De-eskalasi ketegangan di Timur Tengah juga memangkas premi geopolitik pada emas dan logam lainnya, terutama perak,” ujar Meir.

Ketegangan geopolitik global dinilai mulai mereda setelah aksi protes di Iran menurun. Di saat bersamaan, Presiden AS Donald Trump memilih pendekatan wait and see, sementara Presiden Rusia Vladimir Putin dilaporkan berupaya memediasi situasi di Iran guna menurunkan eskalasi.

Faktor Perdagangan dan Kebijakan The Fed

Dari sisi perdagangan global, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Taiwan yang diumumkan Kamis lalu. Kesepakatan tersebut menurunkan tarif atas sejumlah ekspor semikonduktor Taiwan dan mendorong masuknya investasi baru ke sektor teknologi AS. Namun, langkah ini dinilai berpotensi memicu ketegangan baru dengan China.

Sementara itu, pelaku pasar masih mencermati arah kebijakan Federal Reserve (The Fed). Berdasarkan data LSEG, bank sentral AS diperkirakan menahan suku bunga hingga paruh pertama 2026, dengan peluang pemangkasan pertama sebesar 25 basis poin pada Juni.

Dalam kondisi normal, emas cenderung berkinerja positif saat suku bunga rendah dan ketidakpastian ekonomi meningkat. Meski terkoreksi, prospek jangka menengah emas dinilai tetap solid.

“Saya masih melihat peluang emas mencapai US$5.000 per ons tahun ini, meskipun perjalanannya akan diwarnai koreksi-koreksi besar,” kata Meir.

Tekanan jual juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak spot anjlok 2,9% ke US$89,65 per ons, meski masih mencatat potensi kenaikan mingguan lebih dari 12% setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi US$93,57 per ons.

JP Morgan dalam catatannya menyebut harga perak kini rentan terhadap koreksi tajam, seiring meningkatnya risiko pasokan global, arus keluar ETF, melemahnya permintaan industri, serta pengetatan kebijakan perdagangan di China.

Sementara itu, harga platinum spot turun 3,3% ke US$2.330,67 per ons, namun masih mengarah ke kenaikan mingguan. Palladium juga melemah 0,6% ke US$1.790,78 per ons.

Dengan kombinasi faktor geopolitik yang lebih tenang, kebijakan moneter yang masih ketat, serta valuasi yang sudah tinggi, pasar menilai volatilitas harga emas masih akan berlanjut. Koreksi jangka pendek dinilai wajar, namun minat terhadap emas sebagai aset lindung nilai jangka panjang belum sepenuhnya pudar.***

Previous Post

Fase Kedua Gencatan Senjata Gaza Resmi Dimulai: Tantangan dan Harapan Baru Perdamaian Timur Tengah

Next Post

Dari Pengungsi Jadi Maestro Industri Chip: Kisah Sukses Jason Chang yang Berharta Rp186 Triliun

Berita Terkait

BTN dan RSUP Ngoerah Kolaborasi Kembangkan Layanan Wellness dan Wisata Medis di Bali
Finance

BTN dan RSUP Ngoerah Kolaborasi Kembangkan Layanan Wellness dan Wisata Medis di Bali

October 17, 2026

DENPASAR – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menjalin kerja sama strategis dengan RSUP Prof I.G.N.G. Ngoerah untuk membuka...

Read more
Dari Kampus ke Industri, BTN Ajak Anak Muda Bandung Ciptakan Inovasi Perumahan Melalui BTN Housingpreneur Batch 3

Dari Kampus ke Industri, BTN Ajak Anak Muda Bandung Ciptakan Inovasi Perumahan Melalui BTN Housingpreneur Batch 3

October 13, 2026
BTN Buka Suara Soal Kasus Dana Nasabah Rp17 Miliar: Klaim Kerugian Harus Didukung Bukti, Bukan Opini

BTN Buka Suara Soal Kasus Dana Nasabah Rp17 Miliar: Klaim Kerugian Harus Didukung Bukti, Bukan Opini

October 13, 2026
BTN Gandeng BPD Bali, Perkuat Layanan Pembayaran PLN

BTN Gandeng BPD Bali, Perkuat Layanan Pembayaran PLN

October 10, 2026
Next Post
Dari Pengungsi Jadi Maestro Industri Chip: Kisah Sukses Jason Chang yang Berharta Rp186 Triliun

Dari Pengungsi Jadi Maestro Industri Chip: Kisah Sukses Jason Chang yang Berharta Rp186 Triliun

BeritaPontianak.com

© 2023 Berita Pontianak.

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Home
  • Regional
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekbis
  • Politik
  • Teknologi

© 2023 Berita Pontianak.