• Home
  • Regional
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekbis
  • Politik
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Regional
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekbis
  • Politik
  • Teknologi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Dampak Perubahan Iklim dan Cuaca Ekstrem Menghantam Asia dengan Keras

Dampak Perubahan Iklim dan Cuaca Ekstrem Menghantam Asia dengan Keras

April 26, 2024
Share on FacebookShare on Twitter

Asia masih menjadi wilayah yang paling banyak dilanda bencana di dunia akibat cuaca, iklim, dan bahaya yang berkaitan dengan air pada tahun 2023. Banjir dan badai menyebabkan jumlah korban jiwa dan kerugian ekonomi tertinggi, sementara dampak gelombang panas menjadi lebih parah, menurut laporan baru dari Organisasi Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO).

Laporan State of the Climate in Asia 2023 menyoroti laju percepatan indikator perubahan iklim utama seperti suhu permukaan, pencairan gletser, dan kenaikan permukaan air laut, yang akan berdampak besar pada masyarakat, ekonomi, dan ekosistem di kawasan ini.

You might also like

Drone Israel Hantam Gaza Tengah, Warga Palestina Tewas Saat Ziarah Makam Saudara

Drone Israel Hantam Gaza Tengah, Warga Palestina Tewas Saat Ziarah Makam Saudara

September 26, 2026
Presiden Iran Tantang Trump di PBB: Kami Tak Akan Pernah Bertekuk Lutut

Presiden Iran Tantang Trump di PBB: Kami Tak Akan Pernah Bertekuk Lutut

September 23, 2026

Pada tahun 2023, suhu permukaan laut di barat laut Samudra Pasifik adalah yang tertinggi dalam catatan. Bahkan Samudra Arktik pun mengalami gelombang panas laut.

Asia mengalami pemanasan lebih cepat dari rata-rata global. Tren pemanasan telah meningkat hampir dua kali lipat sejak periode 1961-1990.

“Kesimpulan dari laporan ini sangat menyadarkan kita. Banyak negara di kawasan ini mengalami tahun terpanas yang pernah tercatat pada tahun 2023, bersamaan dengan rentetan kondisi ekstrem, mulai dari kekeringan dan gelombang panas hingga banjir dan badai. Perubahan iklim memperburuk frekuensi dan tingkat keparahan peristiwa tersebut, yang berdampak besar pada masyarakat, ekonomi, dan yang terpenting, kehidupan manusia dan lingkungan tempat kita tinggal,” kata Sekretaris Jenderal WMO Celeste Saulo dalam siaran pers PBB, Rabu (24/4/2024).

Pada tahun 2023, total 79 bencana yang terkait dengan bahaya hidrometeorologi dilaporkan di Asia menurut Emergency Events Database. Dari jumlah tersebut, lebih dari 80% terkait dengan peristiwa banjir dan badai, dengan lebih dari 2.000 korban jiwa dan sembilan juta orang terkena dampak langsung. Meskipun risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh panas ekstrem semakin meningkat, kematian akibat panas sering kali tidak dilaporkan.

“Sekali lagi, di tahun 2023, negara-negara yang rentan terkena dampak yang tidak proporsional. Sebagai contoh, topan tropis Mocha, topan terkuat di Teluk Benggala dalam satu dekade terakhir, menghantam Bangladesh dan Myanmar. Peringatan dini dan kesiapsiagaan yang lebih baik telah menyelamatkan ribuan nyawa,” ujar Armida Salsiah Alisjahbana, Sekretaris Eksekutif Komisi Ekonomi dan Sosial untuk Asia dan Pasifik (ESCAP), yang menjadi mitra dalam penyusunan laporan ini.

“Dalam konteks ini, laporan State of the Climate in Asia 2023 merupakan upaya untuk menjembatani kesenjangan antara ilmu pengetahuan iklim dan risiko bencana melalui proposal kebijakan berbasis bukti. ESCAP dan WMO, melalui kemitraan, akan terus berinvestasi untuk meningkatkan ambisi iklim dan mempercepat implementasi kebijakan yang baik, termasuk memberikan peringatan dini kepada semua pihak di kawasan ini agar tidak ada yang tertinggal sering dengan krisis perubahan iklim yang terus berkembang,” ujarnya.

Sekitar 80 persen Anggota WMO di wilayah ini menyediakan layanan iklim untuk mendukung kegiatan pengurangan risiko bencana. Namun, kurang dari 50 persen Anggota menyediakan proyeksi iklim dan produk khusus yang diperlukan untuk menginformasikan manajemen risiko dan adaptasi serta mitigasi perubahan iklim dan dampaknya, menurut laporan tersebut.

Laporan ini, salah satu dari serangkaian laporan Status Iklim regional WMO, dirilis pada sesi ke-80 Komisi di Bangkok, Thailand. Laporan ini didasarkan pada masukan dari Badan Meteorologi dan Hidrologi National, mitra Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan jaringan ahli iklim. Laporan ini mencerminkan komitmen WMO untuk memprioritaskan inisiatif regional dan menginformasikan untuk pengambilan keputusan.

 

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID

Previous Post

BRK Syariah Berangkatkan 1.414 Nasabah ke Tanah Suci, JCH Wilayah Pekanbaru Ikuti Bimbingan Haji

Next Post

Mendag minta pengusaha tidak melakukan kecurangan dagang

Berita Terkait

Drone Israel Hantam Gaza Tengah, Warga Palestina Tewas Saat Ziarah Makam Saudara
Internasional

Drone Israel Hantam Gaza Tengah, Warga Palestina Tewas Saat Ziarah Makam Saudara

September 26, 2026

Serangan drone Israel kembali dilaporkan terjadi di Jalur Gaza pada Jumat, 25 September 2026. Satu warga Palestina tewas dan sejumlah...

Read more
Presiden Iran Tantang Trump di PBB: Kami Tak Akan Pernah Bertekuk Lutut

Presiden Iran Tantang Trump di PBB: Kami Tak Akan Pernah Bertekuk Lutut

September 23, 2026
Selat Hormuz Bisa Dibuka 7 Hari Lagi, Iran Ajukan Syarat Berat ke AS

Selat Hormuz Bisa Dibuka 7 Hari Lagi, Iran Ajukan Syarat Berat ke AS

September 22, 2026
Warren Buffett Jadi Chairman Emeritus, Putranya Pimpin Dewan Berkshire Hathaway

Warren Buffett Jadi Chairman Emeritus, Putranya Pimpin Dewan Berkshire Hathaway

September 19, 2026
Next Post
Mendag minta pengusaha tidak melakukan kecurangan dagang

Mendag minta pengusaha tidak melakukan kecurangan dagang

BeritaPontianak.com

© 2023 Berita Pontianak.

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Home
  • Regional
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekbis
  • Politik
  • Teknologi

© 2023 Berita Pontianak.