• Home
  • Regional
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekbis
  • Politik
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Regional
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekbis
  • Politik
  • Teknologi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Alasan Starbucks Disebut Pro-Israel dan Ikut Diboikot

Alasan Starbucks Disebut Pro-Israel dan Ikut Diboikot

November 12, 2023
Share on FacebookShare on Twitter

BERITAPONTIANAK.COM – Starbucks menjadi salah satu brand utama gerakan Boycott, Divestment, Sanctions (BDS) atau Boikot, Divestasi, Sanksi yang berlangsung secara global. Aksi boikot tersebut nampaknya mempengaruhi gerak saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) selaku induk dari PT MAP Boga Adiperkasa Tbk (MAPB) yang menjadi pengelola gerai Starbucks di Indonesia.

Saham MAPI dalam sebulan terakhir tercatat anjlok 19,60 persen atau 390 poin ke harga Rp 1.600 per lembar saham dari Rp 1.990 per lembar saham pada 6 Oktober 2023.

You might also like

Geopolitik Dunia Bergejolak, Pemerintah Klaim Ketahanan Pangan dan Energi RI Aman

Rancangan Kesepakatan Damai AS–Iran Mengemuka, Isyarat Baru Redakan Ketegangan Timur Tengah

June 14, 2026
Skema Dana Jumbo UEA ke Iran Jadi Sorotan, Diduga untuk Redam Ketegangan Regional

Skema Dana Jumbo UEA ke Iran Jadi Sorotan, Diduga untuk Redam Ketegangan Regional

June 13, 2026

BDS sendiri adalah gerakan kebebasan, keadilan, dan kesetaraan yang dipimpin Palestina. BDS menjunjung tinggi prinsip sederhana bahwa warga Palestina berhak atas hak yang sama seperti umat manusia lainnya. BDS mengajak memboikot perusahaan Israel dan internasional yang terlibat dalam tindakan pelanggaran hak-hak Palestina.

Berdiri sejak 1971 di Seattle, AS, gerai Starbucks melakukan ekspansi global dengan sangat cepat dan singkat. Saat ini, sudah ada 35.711 gerai yang tersebar di seluruh dunia. Dituding mendukung Israel, ternyata Starbucks bangkrut membangun usahanya di negara yang dipimpin oleh Benjamin Netanyahu tersebut.

Tiga tahun setelah berkunjung ke Israel mantan chief executive officer (CEO) Starbucks Howard Schultz membuka Gerai Starbucks pertama di Tel Aviv, Israel pada September 2001. Awalnya, Starbucks berencana membuka 20 kedai di Israel pada tahun pertama operasinya. Untuk operasional kedai kopi itu berkerjasama dengan perusahaan bensin, Delek Israel Fuel Corporation (DIFC) yang memegang 80,5 persen saham.

Terlalu jumawa, Howard yakin kedai kopinya bisa membangun 80 kedai di kota-kota besar Israel dalam waktu empat tahun. Namun, ternyata mimpi tersebut hanya menjadi angan-angan, karena beberapa bulan setelah Starbucks meluncurkan kedai kopi pertamanya, penjualannya tercatat sangat buruk dan hampir seluruh toko Starbucks kosong.

Akibatnya, tak ada satupun toko yang mencatatkan keuntungan. Semuanya merugi. Kalnin dan Stroock mencatat kerugian Starbucks dari awal berdiri pada 2003 mencapai 6 juta dolar AS atau setara Rp 93 miliar di masa kini.

Starbucks juga pernah menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah mengirimkan sebagian keuntungan kepada pemerintah dan/atau tentara Israel. Starbucks menyatakan bahwa pihaknya mengakhiri kemitraan di Israel pada 2003 lalu karena tantangan operasional, bukan berdasarkan masalah politik. Menurut manajemen, seluruh keputusan bisnis tidak pernah berdasarkan isu politik.

Perihal gerakan memboikot, Starbucks dituduh mendukung Israel lantaran Starbucks menggugat serikat pekerjanya, Starbucks Workers United pada awal bulan ini setelah organisasi buruh tersebut mengunggah pesan yang sudah dihapus di X, yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter, yang menyatakan solidaritas terhadap warga Palestina. Tagar #boycottstarbucks pun telah ditonton lebih dari 29 juta kali di Tiktok.

Starbucks menuduh serikat pekerja yang mewakili ribuan barista merusak merek dan membahayakan rekan kerja dengan tweet pro-Palestina. Serikat pekerja pun telah mengajukan gugatan balik terhadap Starbucks. Mereka menyebut gugatan tersebut sebagai upaya untuk merusak serikat pekerja dan melemahkan upaya pengorganisasian mereka.

Dalam pernyataan terpisah, Starbucks menegaskan bahwa pihaknya mengutuk tindakan terorisme, kebencian, dan kekerasan. Selain itu, manajemen kembali menyatakan ketidaksetujuan atas pandangan yang diungkapkan oleh Workers United. Menurut manajemen, seluruh pernyataan dan tindakan Workers United adalah tanggung jawab masing-masing tanpa melibatkan Starbucks secara keseluruhan.

“Starbucks kembali menyampaikan simpati terdalam kami kepada mereka yang terbunuh, terluka, terlantar, dan terkena dampak dari aksi teror yang keji dan tidak dapat diterima, meningkatnya kekerasan, dan kebencian terhadap orang-orang tak berdosa di Israel dan Gaza” tulis Starbucks dalam pernyataan resminya Oktober lalu.

“Sebagai penegasan, kami dengan tegas mengutuk tindakan terorisme, kebencian, dan kekerasan ini, dan tidak setuju dengan pernyataan dan pandangan yang diungkapkan oleh Workers United dan para anggotanya,” tulis manajemen Starbucks.

Pada 2014, Starbucks pernah secara resmi mengklarifikasi tudingan dukungan mereka terhadap Israel. Mereka menyatakan tidak mendukung gerakan politik atau agama tertentu. Starbucks menyebut sebagai perusahaan maupun individu di dalamanya termasuk Mantan CEO Howard Schultz tidak memberi dukungan dana bagi Israel. Diketahui, Howard telah mengundurkan diri pada September lalu.

”Strarbucks merupakan perusahaan publik. Segala bentuk sumbangan korporasi harus dilaporkan secara terbuka tiap tahunya,” demikian pernyataan resmi perusahaan minuman kopi internasional itu di laman resminya.

Tak hanya konflik Israel dan Palestina, Strabucks juga pernah membuat kontroversi dengan pernyataannya yang memberikan dukungan terhadap LGBT. Pada 2016 lalu, Marketing Communications & CSR Manager, PT Sari Coffee Indonesia, selaku pemegang lisensi Starbucks Indonesia, Yuti Resani, mengatakan pihaknya tetap menghargai keragaman dan kesetaraan dan berkomitmen sejalan dengan kebijakan manajemen Starbucks.

“Starbucks menghargai keragaman dan kesetaraan, dan kami berkomitmen untuk menyediakan lingkungan yang inklusif dan ramah untuk semua partners (pegawai Starbucks) dan pelanggan kami,” ujar Yuti kepada Republika.

Starbucks masuk ke Indonesia sejak 2001 setelah Starbucks menyeleksi 200 perusahaan calon mitra di Indonesia. PT Mitra Adi Perkasa Tbk (MAPI) terpilih menjadi mitra Starbucks. Melalui PT Sari Coffee Indonesia, Starbucks membuka dan mengoperasikan kedai kopi pertamanya berada di Plaza Indonesia, Jakarta.

Saat ini, Starbucks memiliki lebih dari 400 cabang di seluruh Indonesia, yang tersebar di berbagai kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Bali. Salah satu keunikan Starbucks di Indonesia adalah adaptasi menu. Meski tetap menyajikan minuman khas seperti Caramel Macchiato atau Frappuccino, Starbucks Indonesia juga menawarkan kreasi lokal. (republika/mj)

Previous Post

Unilever Pro-Israel, Pepsodent, Sunsilk, Royco, Hingga Bango Kena Boikot

Next Post

Presiden: Indonesia Akan Tetap Impor Beras

Berita Terkait

Geopolitik Dunia Bergejolak, Pemerintah Klaim Ketahanan Pangan dan Energi RI Aman
Internasional

Rancangan Kesepakatan Damai AS–Iran Mengemuka, Isyarat Baru Redakan Ketegangan Timur Tengah

by admin
June 14, 2026
0

Upaya meredakan ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali menjadi sorotan internasional setelah munculnya draf awal kesepakatan damai yang tengah...

Read more
Skema Dana Jumbo UEA ke Iran Jadi Sorotan, Diduga untuk Redam Ketegangan Regional

Skema Dana Jumbo UEA ke Iran Jadi Sorotan, Diduga untuk Redam Ketegangan Regional

June 13, 2026

Kekeringan Terparah di China dalam Sejarah Modern: Krisis Air Ancam 13 Juta Jiwa, Ribuan Warga Tewas

June 9, 2026
Klaim Tujuan Tercapai, Trump Umumkan AS Akan Tinggalkan Iran Tanpa Buka Selat Hormuz

Klaim Tujuan Tercapai, Trump Umumkan AS Akan Tinggalkan Iran Tanpa Buka Selat Hormuz

April 2, 2026
Next Post
Presiden: Indonesia Akan Tetap Impor Beras

Presiden: Indonesia Akan Tetap Impor Beras

Please login to join discussion
BeritaPontianak.com

© 2023 Berita Pontianak.

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Home
  • Regional
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekbis
  • Politik
  • Teknologi

© 2023 Berita Pontianak.