• Home
  • Regional
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekbis
  • Politik
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Regional
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekbis
  • Politik
  • Teknologi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Sidang Bangkrut Pertama, Nasib 465.000 Agen Pemasaran Tupperware di Ujung Tanduk

Tupperware

Sidang Bangkrut Pertama, Nasib 465.000 Agen Pemasaran Tupperware di Ujung Tanduk

September 20, 2024
Share on FacebookShare on Twitter

Tupperware, menghadapi tantangan besar pada hari pertama sidang kebangkrutan. Perselisihan dengan para pemberi pinjaman memaksa perusahaan menunda pembayaran komisi kepada 465.000 agen pemasarannya, yang mengancam proses pemulihan perusahaan.

Tupperware hanya memiliki US$7,4 juta dalam bentuk tunai, namun tidak dapat menggunakan dana tersebut tanpa persetujuan dari pemberi pinjaman. 

You might also like

PHK di Indonesia Tembus 53.490 Orang hingga Agustus 2026, Juni Jadi Bulan dengan Laporan Tertinggi

PHK di Indonesia Tembus 53.490 Orang hingga Agustus 2026, Juni Jadi Bulan dengan Laporan Tertinggi

September 25, 2026

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.731 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

September 17, 2026

Sementara itu, perusahaan berutang US$1,4 juta kepada agen-agennya dalam bentuk komisi. Situasi ini menjadi kendala besar bagi Tupperware untuk menjalankan rencana pemulihan melalui lelang yang diawasi pengadilan, yang bertujuan menarik investor potensial.

Pemberi pinjaman, termasuk Bank of America dan beberapa dana lindung nilai, menolak memberikan izin kepada Tupperware untuk menggunakan uang tunai tersebut.

Mereka bahkan mengajukan permintaan kepada Hakim Kepailitan AS Brendan Linehan Shannon untuk mengeluarkan perusahaan dari proses kebangkrutan, sebuah langkah drastis yang berpotensi mempercepat penyitaan perusahaan. Saat ini, Tupperware memiliki utang lebih dari US$800 juta yang belum dibayar.

Menurut Thomas J. Salerno, seorang pengacara kepailitan, situasi ini sangat tidak biasa. “Memiliki hanya US$7,4 juta dalam tunai untuk perusahaan sebesar ini dengan utang sebesar itu, seperti mengatakan Anda hanya punya US$1,50 di bank,” kata Salerno.

Jika permintaan pemberi pinjaman dikabulkan, proses penjualan Tupperware bisa dipercepat, yang memungkinkan mereka mengambil alih kendali perusahaan tanpa melalui proses lelang panjang.

Pada sidang pendahuluan yang diadakan Kamis, 19 September 2024 di Wilmington, Delaware, Tupperware diharapkan mendapatkan izin untuk membayar karyawan dan pemasok utama. Namun, karena adanya keberatan dari para pemberi pinjaman, perusahaan harus kembali ke pengadilan untuk meminta hakim mencabut pembatasan atas dana tunai sebesar US$7,4 juta tersebut.

Pengacara Tupperware, Spencer A. Winters, mengatakan kepada hakim bahwa hingga sidang berikutnya, perusahaan tidak akan melakukan pembayaran apapun.

Tupperware mengajukan kebangkrutan awal pekan ini setelah bertahun-tahun berjuang dengan masalah keuangan. Pendiri Tupperware, Earl Tupper, pertama kali memperkenalkan produk plastiknya pada tahun 1946, dengan segel kedap udara yang menjadi ciri khasnya.

Dalam beberapa dekade, produk Tupperware mendominasi pasar melalui penjualan independen dalam bentuk pesta penjualan di rumah-rumah.

Namun, persaingan ketat di pasar serta kegagalan Tupperware dalam mengikuti perkembangan industri ritel modern telah menyebabkan penurunan permintaan. Pandemi Covid-19 sempat meningkatkan penjualan, namun tren tersebut tidak bertahan lama.

Pada 2022, Tupperware masih sangat bergantung pada 465.000 agen pemasar dan 5.450 karyawan. Namun, konsumen kini lebih memilih membeli produk serupa, bahkan lebih murah, secara online melalui platform seperti Amazon dan Walmart. Di sisi lain, meningkatnya minat terhadap produk ramah lingkungan juga mengurangi permintaan akan barang plastik seperti Tupperware.***

Previous Post

Berbalik Dekati Rekor Tertinggi, Harga 1 Gram Emas Antam Hari Ini Rp1,443 Juta

Next Post

Lonjakan Peringkat FIFA Timnas Indonesia Setelah Matchday September 2024, Tinggalkan Malaysia

Berita Terkait

PHK di Indonesia Tembus 53.490 Orang hingga Agustus 2026, Juni Jadi Bulan dengan Laporan Tertinggi
Ekbis

PHK di Indonesia Tembus 53.490 Orang hingga Agustus 2026, Juni Jadi Bulan dengan Laporan Tertinggi

September 25, 2026

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih menjadi perhatian dalam dinamika ketenagakerjaan Indonesia sepanjang 2026. Data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menunjukkan sebanyak...

Read more

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.731 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

September 17, 2026
BUK Migas Bakal Langsung di Bawah Presiden, Bahlil Ungkap Target dan Peran Barunya

BUK Migas Bakal Langsung di Bawah Presiden, Bahlil Ungkap Target dan Peran Barunya

September 17, 2026
PLTP Gunung Ungaran Dinilai Bisa Tekan Emisi dan Buka Peluang Ekonomi Warga

PLTP Gunung Ungaran Dinilai Bisa Tekan Emisi dan Buka Peluang Ekonomi Warga

September 16, 2026
Next Post
Lonjakan Peringkat FIFA Timnas Indonesia Setelah Matchday September 2024, Tinggalkan Malaysia

Lonjakan Peringkat FIFA Timnas Indonesia Setelah Matchday September 2024, Tinggalkan Malaysia

BeritaPontianak.com

© 2023 Berita Pontianak.

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Home
  • Regional
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekbis
  • Politik
  • Teknologi

© 2023 Berita Pontianak.