• Home
  • Regional
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekbis
  • Politik
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Regional
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekbis
  • Politik
  • Teknologi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Bangun Bendungan Raksasa, Potensi Ketegangan China dan India Kian Meningkat

Bangun Bendungan Raksasa, Potensi Ketegangan China dan India Kian Meningkat

December 28, 2024
Share on FacebookShare on Twitter

China akan membangun sebuah bendungan raksasa di dekat perbatasan dengan India. Hal ini berpotensi meningkatkan ketegangan dari kedua belah pihak.

Bendungan raksasa itu rencananya akan dibangun di Sungai Yarlung Tsangpo, Tibet, yang terletak dekat perbatasannya dengan India.

You might also like

Klaim Tujuan Tercapai, Trump Umumkan AS Akan Tinggalkan Iran Tanpa Buka Selat Hormuz

Klaim Tujuan Tercapai, Trump Umumkan AS Akan Tinggalkan Iran Tanpa Buka Selat Hormuz

April 2, 2026
Iron Dome Kebobolan! Rudal Iran Hantam Kawasan Nuklir Dimona, 175 Orang Terluka

Iron Dome Kebobolan! Rudal Iran Hantam Kawasan Nuklir Dimona, 175 Orang Terluka

March 24, 2026

Proyek ambisius ini diperkirakan mampu menghasilkan energi tiga kali lipat dari Bendungan Tiga Ngarai, bendungan terbesar di dunia saat ini.

Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya Beijing untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan infrastruktur energi besar-besaran.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, Sabtu, 28 Desember 2024, pemerintah China telah menyetujui pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga air tersebut, sebagaimana dilaporkan kantor berita Xinhua.

Namun, hingga kini belum ada rincian lebih lanjut mengenai rencana pembangunan, termasuk jadwal pelaksanaan dan detail teknis lainnya.

Berdasarkan laporan sebelumnya, biaya investasi proyek ini mencapai 1 triliun yuan atau sekitar Rp2.217 triliun, menjadikannya salah satu proyek infrastruktur termahal dalam sejarah.

Namun, pembangunan ini memicu kekhawatiran India, mengingat Sungai Yarlung Tsangpo mengalir ke wilayah Arunachal Pradesh yang masih disengketakan, sebelum bermuara ke sungai utama di India.

Ketegangan kedua negara sebelumnya memuncak pada bentrokan perbatasan 2020 yang menewaskan puluhan tentara dari kedua belah pihak. Proyek ini dikhawatirkan dapat memberikan China kendali strategis atas aliran air yang sangat penting bagi India.

David Fishman, manajer senior di Lantau Group, mengatakan bahwa proyek ini akan memakan waktu lebih dari satu dekade untuk selesai. Ia juga menilai bahwa kebutuhan energi Tibet tidak sebanding dengan kapasitas yang direncanakan, sehingga listrik harus disalurkan ke wilayah lain di China.

“Ini adalah proyek rekayasa besar, tetapi pihak-pihak di hilir sungai, termasuk India, khawatir akan dampaknya terhadap aliran air,” ungkapnya.

Ketika dimintai komentar, Kementerian Luar Negeri India enggan memberikan tanggapan lebih lanjut. Sementara itu, pihak China mengklaim telah melakukan kajian panjang terkait proyek ini dan berkomitmen memastikan dampaknya tidak merugikan negara-negara di hilir.

Beijing juga menyatakan terus berbagi data hidrologi dan bekerja sama dengan negara-negara tetangga dalam pencegahan bencana serta pengelolaan air.

Selain potensi dampak geopolitik, proyek ini juga menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan lingkungan. Kawasan sekitar sungai adalah cagar alam nasional dengan keanekaragaman hayati yang tinggi.

Para aktivis lingkungan telah lama mengkritik rencana tersebut, khawatir akan dampaknya terhadap ekosistem lokal dan spesies langka seperti harimau Tibet.

Pemerintah China tampaknya menyadari sensitivitas ini, terbukti dari penyensoran artikel yang mempertanyakan dampak proyek terhadap lingkungan.

Tenaga air saat ini merupakan sumber energi terbesar kedua di China, menyumbang 14% dari total bauran energi nasional. Namun, perubahan iklim dan periode kekeringan yang lebih panjang telah mengurangi efisiensi tenaga air.

Dalam kondisi ini, China tetap berupaya membangun bendungan raksasa ini untuk meningkatkan kapasitas energi nasionalnya, meski proyek ini menghadapi tantangan teknis, biaya, dan potensi konflik regional yang signifikan.***

Previous Post

Mahfud MD Kritik Putusan Hakim terhadap Koruptor Timah Harvey Moeis “6,5 Tahun Kecil Sekali”

Next Post

Ada Potensi Biaya Haji Tahun 2025 Lebih Murah

Berita Terkait

Klaim Tujuan Tercapai, Trump Umumkan AS Akan Tinggalkan Iran Tanpa Buka Selat Hormuz
Internasional

Klaim Tujuan Tercapai, Trump Umumkan AS Akan Tinggalkan Iran Tanpa Buka Selat Hormuz

by admin
April 2, 2026
0

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pasukan AS akan meninggalkan Iran dalam "dua hingga tiga minggu," menandakan...

Read more
Iron Dome Kebobolan! Rudal Iran Hantam Kawasan Nuklir Dimona, 175 Orang Terluka

Iron Dome Kebobolan! Rudal Iran Hantam Kawasan Nuklir Dimona, 175 Orang Terluka

March 24, 2026
Larangan Vape Diperketat, Singapura Amankan Ribuan Rokok Elektronik Ilegal

Larangan Vape Diperketat, Singapura Amankan Ribuan Rokok Elektronik Ilegal

March 15, 2026
Tragedi di Iran: 202 Anak dan 223 Perempuan Jadi Korban Serangan Udara

Tragedi di Iran: 202 Anak dan 223 Perempuan Jadi Korban Serangan Udara

March 15, 2026
Next Post
Ada Potensi Biaya Haji Tahun 2025 Lebih Murah

Ada Potensi Biaya Haji Tahun 2025 Lebih Murah

BeritaPontianak.com

© 2023 Berita Pontianak.

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Home
  • Regional
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekbis
  • Politik
  • Teknologi

© 2023 Berita Pontianak.