• Home
  • Regional
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekbis
  • Politik
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Regional
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekbis
  • Politik
  • Teknologi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Bangun Bendungan Raksasa, Potensi Ketegangan China dan India Kian Meningkat

Bangun Bendungan Raksasa, Potensi Ketegangan China dan India Kian Meningkat

December 28, 2024
Share on FacebookShare on Twitter

China akan membangun sebuah bendungan raksasa di dekat perbatasan dengan India. Hal ini berpotensi meningkatkan ketegangan dari kedua belah pihak.

Bendungan raksasa itu rencananya akan dibangun di Sungai Yarlung Tsangpo, Tibet, yang terletak dekat perbatasannya dengan India.

You might also like

Drone Israel Hantam Gaza Tengah, Warga Palestina Tewas Saat Ziarah Makam Saudara

Drone Israel Hantam Gaza Tengah, Warga Palestina Tewas Saat Ziarah Makam Saudara

September 26, 2026
Presiden Iran Tantang Trump di PBB: Kami Tak Akan Pernah Bertekuk Lutut

Presiden Iran Tantang Trump di PBB: Kami Tak Akan Pernah Bertekuk Lutut

September 23, 2026

Proyek ambisius ini diperkirakan mampu menghasilkan energi tiga kali lipat dari Bendungan Tiga Ngarai, bendungan terbesar di dunia saat ini.

Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya Beijing untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan infrastruktur energi besar-besaran.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, Sabtu, 28 Desember 2024, pemerintah China telah menyetujui pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga air tersebut, sebagaimana dilaporkan kantor berita Xinhua.

Namun, hingga kini belum ada rincian lebih lanjut mengenai rencana pembangunan, termasuk jadwal pelaksanaan dan detail teknis lainnya.

Berdasarkan laporan sebelumnya, biaya investasi proyek ini mencapai 1 triliun yuan atau sekitar Rp2.217 triliun, menjadikannya salah satu proyek infrastruktur termahal dalam sejarah.

Namun, pembangunan ini memicu kekhawatiran India, mengingat Sungai Yarlung Tsangpo mengalir ke wilayah Arunachal Pradesh yang masih disengketakan, sebelum bermuara ke sungai utama di India.

Ketegangan kedua negara sebelumnya memuncak pada bentrokan perbatasan 2020 yang menewaskan puluhan tentara dari kedua belah pihak. Proyek ini dikhawatirkan dapat memberikan China kendali strategis atas aliran air yang sangat penting bagi India.

David Fishman, manajer senior di Lantau Group, mengatakan bahwa proyek ini akan memakan waktu lebih dari satu dekade untuk selesai. Ia juga menilai bahwa kebutuhan energi Tibet tidak sebanding dengan kapasitas yang direncanakan, sehingga listrik harus disalurkan ke wilayah lain di China.

“Ini adalah proyek rekayasa besar, tetapi pihak-pihak di hilir sungai, termasuk India, khawatir akan dampaknya terhadap aliran air,” ungkapnya.

Ketika dimintai komentar, Kementerian Luar Negeri India enggan memberikan tanggapan lebih lanjut. Sementara itu, pihak China mengklaim telah melakukan kajian panjang terkait proyek ini dan berkomitmen memastikan dampaknya tidak merugikan negara-negara di hilir.

Beijing juga menyatakan terus berbagi data hidrologi dan bekerja sama dengan negara-negara tetangga dalam pencegahan bencana serta pengelolaan air.

Selain potensi dampak geopolitik, proyek ini juga menimbulkan pertanyaan tentang keberlanjutan lingkungan. Kawasan sekitar sungai adalah cagar alam nasional dengan keanekaragaman hayati yang tinggi.

Para aktivis lingkungan telah lama mengkritik rencana tersebut, khawatir akan dampaknya terhadap ekosistem lokal dan spesies langka seperti harimau Tibet.

Pemerintah China tampaknya menyadari sensitivitas ini, terbukti dari penyensoran artikel yang mempertanyakan dampak proyek terhadap lingkungan.

Tenaga air saat ini merupakan sumber energi terbesar kedua di China, menyumbang 14% dari total bauran energi nasional. Namun, perubahan iklim dan periode kekeringan yang lebih panjang telah mengurangi efisiensi tenaga air.

Dalam kondisi ini, China tetap berupaya membangun bendungan raksasa ini untuk meningkatkan kapasitas energi nasionalnya, meski proyek ini menghadapi tantangan teknis, biaya, dan potensi konflik regional yang signifikan.***

Previous Post

Mahfud MD Kritik Putusan Hakim terhadap Koruptor Timah Harvey Moeis “6,5 Tahun Kecil Sekali”

Next Post

Ada Potensi Biaya Haji Tahun 2025 Lebih Murah

Berita Terkait

Drone Israel Hantam Gaza Tengah, Warga Palestina Tewas Saat Ziarah Makam Saudara
Internasional

Drone Israel Hantam Gaza Tengah, Warga Palestina Tewas Saat Ziarah Makam Saudara

September 26, 2026

Serangan drone Israel kembali dilaporkan terjadi di Jalur Gaza pada Jumat, 25 September 2026. Satu warga Palestina tewas dan sejumlah...

Read more
Presiden Iran Tantang Trump di PBB: Kami Tak Akan Pernah Bertekuk Lutut

Presiden Iran Tantang Trump di PBB: Kami Tak Akan Pernah Bertekuk Lutut

September 23, 2026
Selat Hormuz Bisa Dibuka 7 Hari Lagi, Iran Ajukan Syarat Berat ke AS

Selat Hormuz Bisa Dibuka 7 Hari Lagi, Iran Ajukan Syarat Berat ke AS

September 22, 2026
Warren Buffett Jadi Chairman Emeritus, Putranya Pimpin Dewan Berkshire Hathaway

Warren Buffett Jadi Chairman Emeritus, Putranya Pimpin Dewan Berkshire Hathaway

September 19, 2026
Next Post
Ada Potensi Biaya Haji Tahun 2025 Lebih Murah

Ada Potensi Biaya Haji Tahun 2025 Lebih Murah

BeritaPontianak.com

© 2023 Berita Pontianak.

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Home
  • Regional
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekbis
  • Politik
  • Teknologi

© 2023 Berita Pontianak.