• Home
  • Regional
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekbis
  • Politik
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Home
  • Regional
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekbis
  • Politik
  • Teknologi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Virus Nipah Jadi Perhatian, Kemenkes Tingkatkan Kewaspadaan Nasional

Virus Nipah Jadi Perhatian, Kemenkes Tingkatkan Kewaspadaan Nasional

February 1, 2026
Share on FacebookShare on Twitter

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengeluarkan peringatan resmi kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap virus Nipah, menyusul temuan kasus di negara tetangga dan lingkungan global yang dinilai berisiko. Meski hingga kini belum ada konfirmasi kasus pada manusia di Indonesia, otoritas kesehatan menilai kewaspadaan itu penting dilakukan demi antisipasi potensi penularan.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Menular Kemenkes, Murti Utami, menjelaskan bahwa Indonesia termasuk wilayah yang berpotensi rentan karena mobilitas penduduk tinggi serta posisi geografisnya yang dekat dengan negara-negara yang pernah melaporkan kejadian Nipah. Oleh karena itu, masyarakat diminta terus waspada dan melaksanakan langkah-langkah pencegahan secara proaktif.

You might also like

KRL 2026: Daftar Kota yang Masuk Rencana Perpanjangan Rute

KRL 2026: Daftar Kota yang Masuk Rencana Perpanjangan Rute

February 10, 2026
Gajah Sumatera Ditemukan Tewas di Konsesi Industri, Ini Langkah Kemenhut

Gajah Sumatera Ditemukan Tewas di Konsesi Industri, Ini Langkah Kemenhut

February 7, 2026

Apa Itu Virus Nipah dan Mengapa Waspada Diperlukan?

Virus Nipah (Nipah virus) adalah patogen zoonotik yang biasanya berasal dari kelelawar buah (Pteropus spp.) sebagai inangnya. Virus ini dapat menular ke manusia melalui:

  • Kontaminasi makanan atau minuman yang terpapar air liur atau urine hewan yang terinfeksi

  • Perantara hewan lain seperti babi

  • Kontak erat antarmanusia dalam kasus tertentu

Infeksi Nipah dapat menyebabkan gejala yang bervariasi, mulai dari demam dan sesak napas, hingga ensefalitis (peradangan otak) yang berpotensi fatal. Belum adanya vaksin atau terapi khusus menjadikan virus ini termasuk dalam daftar prioritas pengawasan WHO, meski penyebarannya antarmanusia relatif terbatas dibandingkan penyakit lain seperti COVID-19.

Kekhawatiran global terhadap virus Nipah kembali mengemuka setelah sejumlah kasus dikonfirmasi di negara bagian West Bengal, India. Pemerintah di beberapa negara Asia, termasuk Thailand, Malaysia, dan Singapura, meningkatkan langkah pengawasan di pelabuhan dan bandara untuk mencegah masuknya virus ke wilayah mereka.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) pernah menyatakan bahwa, meskipun risiko penyebaran Nipah di luar wilayah yang terkena itu dinilai rendah, virus ini memiliki tingkat fatalitas yang tinggi, sehingga kewaspadaan tetap menjadi langkah penting.

Lebih dari sekadar imbauan umum, Kemenkes melalui surat edaran resmi meminta masyarakat dan layanan kesehatan untuk:

  • Menjaga kebersihan dan sanitasi makanan, terutama buah yang berisiko terpapar hewan seperti kelelawar

  • Tidak mengonsumsi nira atau aren langsung dari pohon tanpa dimasak, karena bisa terkontaminasi secara tidak sadar

  • Mencuci dan mengupas buah secara menyeluruh sebelum dimakan

  • Memantau gejala seperti ISPA, pneumonia, dan peradangan otak pada diri sendiri atau keluarga, serta segera melapor ke puskesmas atau fasilitas kesehatan jika muncul kecurigaan infeksi

Selain itu, dinas kesehatan di seluruh daerah telah diminta memperketat pemantauan epidemiologi gejala penyakit serupa, termasuk meningitis dan gejala pernapasan yang tidak biasa, untuk deteksi dini kemungkinan kasus Nipah.

Upaya Indonesia juga mencakup penguatan pengawasan di pintu masuk negara seperti bandara dan pelabuhan melalui kerja sama antar-instansi, termasuk Badan Karantina Kesehatan. Pemerintah menyoroti pengawasan terhadap hewan, terutama kelelawar dan unggas migran, karena potensi penyebaran virus melalui jalur hewan liar.

Meskipun belum ada kasus yang dilaporkan, sejumlah pihak di sektor kesehatan masyarakat menekankan bahwa ketidakhadiran kasus bukan berarti bebas risiko. Oleh karena itu, strategi kesiapsiagaan dan komunikasi risiko terhadap publik terus ditingkatkan agar respons cepat dapat dilakukan jika ada indikasi kasus di masa mendatang.

Previous Post

Harga Emas Antam Anjlok ke Rp2,8 Juta, Investor Ambil Untung

Next Post

Di Usia Senja, Ida Elisma Akhirnya Memiliki Rumah Impian Berkat CSR BRK Syariah

Berita Terkait

KRL 2026: Daftar Kota yang Masuk Rencana Perpanjangan Rute
Nasional

KRL 2026: Daftar Kota yang Masuk Rencana Perpanjangan Rute

by admin
February 10, 2026
0

PT Kereta Api Indonesia (KAI) menegaskan rencana strategis untuk memperluas layanan Kereta Rel Listrik (KRL) dengan memperpanjang rute ke lima...

Read more
Gajah Sumatera Ditemukan Tewas di Konsesi Industri, Ini Langkah Kemenhut

Gajah Sumatera Ditemukan Tewas di Konsesi Industri, Ini Langkah Kemenhut

February 7, 2026
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Nasional

BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Nasional

February 6, 2026
Operasi Senyap BNN di Aceh Berbuah 100 Kg Sabu dan Satu Tersangka

Operasi Senyap BNN di Aceh Berbuah 100 Kg Sabu dan Satu Tersangka

January 28, 2026
Next Post
Di Usia Senja, Ida Elisma Akhirnya Memiliki Rumah Impian Berkat CSR BRK Syariah

Di Usia Senja, Ida Elisma Akhirnya Memiliki Rumah Impian Berkat CSR BRK Syariah

BeritaPontianak.com

© 2023 Berita Pontianak.

  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber
  • Kontak

No Result
View All Result
  • Home
  • Regional
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekbis
  • Politik
  • Teknologi

© 2023 Berita Pontianak.